Jakarta - Lebaran
ditahun 1446 Hijriah ini menjadi momentum paling mendebarkan sepanjang sejarah Indonesia pasca merdeka.
Pasalnya, keprihatinan masyarakat tidak mampu membeli
makanan dan melaksanakan budaya lebaran unjung rumah kerumah dengan
membagikan THR makin kian terasa. Ditambah lagi, pasca melewati sholat idul
fitri, Indonesia pun harus bersiap menghadapi realitas pahit terhadap
perkembangan ekonomi nasional kita. Dimana kenyataan pailitnya Industri dalam negeri
masih menghantui masa depan negara Republik Indonesia yang kita cintai bersama
ini.
Presiden Donald Trump tidak hanya mengejutkan Indonesia, namun kembali
membuat dunia internasional
terkejut pasca diterapkannya Kebijakan Reciprocal
Tariffs sebagai upaya langkah strategis Amerika Serikat (AS) dalam
menciptakan keseimbangan tarif antar
negara. Dimana Reciprocal Tariffs bisa diartikan sebagai kebijakan tarif
timbal balik. Kebijakan ini merujuk pada kondisi suatu negara yang menetapkan
tarif impor terhadap barang dari negara
lain dengan tingkat yang sama seperti tarif yang dikenakan oleh negara tersebut
pada barang ekspornya.
Kebijakan
ini disinyalir justru akan membuat kondisi dunia makin dihimpit oleh
ketidakpastian akibat dari Perang Rusia Ukraina maupun Gejolak Politik di Timur
Tengah dan sekarang diperparah dengan adanya Perang Dagang efek domino dari kebijakan
Presiden Trump tersebut. Apalagi banyak negara-negara yang akan terkena
dampaknya, seperti Indonesia yang secara resmi telah dikenakan tarif resiprokal
sebesar 32 persen dari yang biasanya 10 persen per 9 April 2025 nanti.
Angka 32% tentu mengancam
stabilitas perekonomian Indonesia
yang per hari ini (terakhir, 5 April 2025) sedang mengalami ‘kelesuan’ rupiah. Data
menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah
mencapai angka sebesar Rp.17.006 per dolar AS. Nilai tersebut berpotensi
menciptakan tekanan ke pasar keuangan apalagi, jika ditambah dengan kenaikan tarif
ekspor ke AS. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam stabilitas ekonomi
dalam negeri karena menimbulkan domino effect yang bisa memicu penurunan ekspor
Indonesia ke AS; peningkatan biaya terhadap pelaku ekspor komoditas unggulan;
perlambatan produksi; hingga badai
PHK dan penyempitan lapangan pekerjaan. Lebih lanjut, ketidakstabilan ekonomi
nantinya membuat investor asing mengurungkan niat untuk menanamkan modal
sehingga visi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% semakin sulit
diwujudkan. Terlebih,
kebijakan tersebut turut mengancam pergerakan IHSG yang diperkirakan akan melemah saat dibuka. Pada 8 April 2025 dengan
rentang resistance di level 6.660 dan support di 6.150.
Perang Ekonomi AS Vs Semua
Tampaknya
memang kebijakan Trump tidak main-main. Perang ekonomi AS bukan lagi perang
ekonomi versus Tiongkok. Tetapi menjadi bab baru bagi ekonomi-politik global,
yakni perang AS vs semua. Mirip sebagaimana pengandaian filsuf Thomas Hobbes dalam
karyanya
Leviathan (1651), "Bellum omnium contra omnes” (Perang semua, melawan semua).
Bellum omnium contra omnes adalah gambaran relevan
dari ekonomi politik
Amerika Serikat sekarang. Di
mana AS sedang saling mencurigai dan menyerang demi mempertahankan prinsip hidupnya
yaitu ‘America First’.
Selain itu AS sedang menciptakan order ekonomi dari kelesuan sejak berakhirnya pemilu.
Selain itu dalam sudut
pandang lain, pada dasarnya kerja
sama hubungan dagang
antar negara dalam prinsip
ekonomi dasar adalah saling mengefesiensikan masing-masing spesialisasi ekonomi
dalam negeri. Sebagaimana analisa mahaguru ekonomi David Ricardo (1817) tentang
keunggulan komparatif, “setiap negara sebaiknya memproduksi barang yang bisa
mereka hasilkan dengan biaya peluang terendah, dan menukar hasil
produksi tersebut dengan negara lain, meskipun negara itu
bisa memproduksi semuanya secara lebih efisien.”
Namun
nyatanya, dengan adanya kebijakan Reciprocal Tariffs dari AS, mengandaikan bahwa secara tidak langsung AS tidak hanya
mencari keuntungan yang seimbang dari berdagang di masing-masing negara. Tetapi juga memberikan hambatan
perdagangan itu sendiri.
Termasuk ekspor dari AS ke negara lainnya.
Selain itu, hal ini mengandaikan bahwa AS tidak hanya sedang berperang
dagang dengan Tiongkok. Tapi juga sedang berperang dengan kurang lebih 60
negara yang telah ditetapkan oleh kebijakan tersebut.
Selanjutnya jika
mengandaikan logika Ricardo adanya tarif yang sangat tinggi akan membuat negara tidak bisa fokus pada
produk dengan keunggulan komparatifnya. Akhirnya efesiensi global akan menurun,
kan masing-masing jaringan konsumen tiap negara akan merugi.
Keputusan
Donald "the tariff man" Trump untuk membalas tarif impor sejumlah
negara atas barang dari amrik
berdampak signifikan terhadap sentimen berinvestasi dipasar saham dan keuangan
global.
Dan dampak paling besarnya adalah bahwa ekonomi AS pasti akan melorot
signifikan. Terbukti Sejak baru diumumkan oleh Presiden Trump, pasar saham Wall
Street yang jadi acuan pasar saham dunia rontok segera setelah Trump umumkan
tarif balasan yang katanya untuk melindungi ekonomi AS.Tiga indeks utama Wall
Street jatuh kelevel terendah selama lima tahun karena investor khawatir
tentang dampak ekonomi yang lebih luas.
Indonesia "Now or Never"!
Dari
perspektif Indonesia, neraca perdagangan dengan Amerika Serikat menunjukkan surplus, bukan defisit. Surplus terjadi
ketika nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor. Berdasarkan data BPS
ekspor Indonesia ke AS pada 2024 mencapai sekitar US$28,1 miliar.
Sementara
itu impor Indonesia dari AS ke Indonesia pada 2024 diperkirakan sekitar US$10,2
miliar (berdasarkan data USTR dan laporan perdagangan bilateral). Jadi, surplus
Indonesia dengan AS adalah kurang lebih 17,9 miliar dolar AS untuk tahun 2024.
Sebaliknya,
dari perspektif AS, ini tercatat sebagai defisit perdagangan sebesar 17,9
miliar dolar AS dengan Indonesia,
karena AS mengimpor lebih banyak dari Indonesia daripada yang diekspor ke sana.
Sebagai
catatan, persentase perdagangan dengan AS terhadap total perdagangan Indonesia
adalah sekitar 8,1%. Namun dengan kenaikan tarif impor terbaru sebanyak 32%
tentunya berpotensi menurunkan volume dan nilai perdagangan.
Memang di tengah
prahara sosial-ekonomi-politik dalam negeri,
kebijakan Reciprocal Tariffs seperti pukulan tambahan buat
Indonesia. Jika meminjam judul cerpen HB Jasin yang terkenal “Langit
(Indonesia) Makin Mendung”. Namun bagaimanapun
besarnya badai, kapal
bangsa tidak boleh karam. Masih terdapat peluang-peluang yang dapat
dimaksimalkan pemerintah dalam menyiasati perang dagang AS.
Terdapat beberapa dampak positif meski terbatas, bagi ekonomi dalam
negeri, khususnya segmentasi pelaku usaha menengah-bawah, dari adanya kebijakan
tersebut.
Pertama, setidaknya dengan adanya peningkatan tarif masuk ke AS, ini dapat
mendorong pelaku usaha untuk mendiversifikasi pasar ekspor baru, dan dalam
rangka meningkatkan market value. Misalnya Indonesia dibantu oleh pemerintah,
dapat menyasar pasar-pasar baru seperti Asia Selatan, Timur Tengah,
dan Afrika.
Selain itu ini juga dalam rangka mengurangi ketergantungan ekspor ke
AS. Selanjutnya dengan sudah “berlisensi” ekspor ke AS, produk-produk
Indonesia, tidak mengalami banyak kesulitan standarisasi ke daerah
pasar baru nantinya.
Kedua,
tentu adanya penguatan industri domestik. Jika barang AS juga dikenakan tarif
yang tinggi oleh Indonesia, maka produk local
lebih bisa bersaing
di pasar dalam
negeri. Selain itu subtitusi impor sangat mungkin
terjadi. Dan ini menjadi peluang bagi UMKM untuk meningkatkan market valuenya.
Ketiga, peluang ini sangat memungkinkan adanya negosiasi dagang baru bagi
kerja sama ekonomi, regional atau non-regional. Kebijakan Reciprocal Tariffs,
dapat memicu perundingan dagang bilateral baru. Sehingga Reciprocal Tariffs,
dapat menjadi efek domino bagi banyaknya perjanjian bilateral.
Keempat, memang sudah seharusnya pemerintah Indonesia mempunyai rencana ajeg
dalam memperkuat sektor manufaktur. Karena jika sektor ini kuat, Indonesia bisa
naik kelas dari negara pengekspor bahan mentah menjadi negara industri. Selain
itu dalam jangka panjang, ini mendorong Indonesia jadi negara berbasis industri
berteknologi.
Dan yang paling cukup strategis adalah sektor manufaktur menciptakan efek berantai. Seperti mendorong industri
pendukung (logistik, desain,
bahan baku local).
Serta menguatkan sektor UMKM sebagai pemasok komoditas yang
berkualitas.
Namun dari beberapa dampak positif, adanya dampak positif dari perang dagang
AS, jika pemerintah tidak segera berbenah akan sulit sekali Indonesia
meningkatkan daya tawar ekonomi kedepannya.
Tentu
pemerintah sebaiknya harus mengambil langkah-langkah strategis dan cepat agar
tak memperburuk kondisi perekonomian negara kita yang saat ini juga sedang
mengalami distraksi.
Karena jika tidak
disikapi dengan cepat dan cermat, Indonesia sangat mungkin mengalami kerugian
ekonomi yang sangat besar. Dan dampak pemulihan ekonominya bisa sangat lama.
Maka
dari itu Presiden Prabowo mesti memeras otak dari para menter untuk
menghasilkan kebijakan dari banyak sektor (perdagangan, luar negeri,
transportasi, dan lain-lain) yang ke semuanya berfokus pada perekonomian dalam
negeri.
Seperti
ungkapan penyanyi terkenal Elvis Presley lewat lagunya yang berjudul sama (1960), “It's now or never” (sekarang
atau tidak sama sekali)!
MERDEKA !!!
0 Komentar